Kimia

Perbedaan Antiseptik dan Disinfektan yang Harus Kamu Ketahui

Hingga detik ini kasus wabah penyakit Covid-19 masih mengalami peningkatan. Setiap negara berusaha menangani dengan semaksimal mungkin untuk menekan penambahan kasus. Ketika beradaptasi dengan keadaan yang berbeda diperlukan berbagai kebutuhan baru yang wajib untuk dipenuhi sebagai salah satu bentuk upaya pencegahan penularan penyakit tersebut. Kebutuhan itu tidak lain adalah antiseptik dan disinfektan.

Antiseptik dan desinfektan memiliki makna yang berbeda. Kedua istilah tersebut sering digunakan dalam kedokteran. Namun, saat ini sudah menjadi istilah yang banyak digunakan dalam menghadapi segala aktivitas yang dilakukan manusia.

Keduanya mengandung bahan kimia yang membahayakan tubuh apabila penggunaan tidak sesuai dengan aturan yang telah ditetapkan. Dengan demikian kita perlu memahai perbedaan dari kedua istilah tersebut agar tidak salah dalam penggunaannya.

Lantas apa sebenarnya perbedaan dari kedua istilah tersebut? Dan bagaimana penggunaan yang seharusnya dilakukan dalam menghadapi kondisi pandemi seperti saat ini?

Disinfektan

desinfektan
Photo by Clay Banks on Unsplash

Disinfektan adalah suatu bahan yang digunakan dalam proses desinfeksi. Menurut Irianto (2007) Seringkali diartikan sebagai sinonim dari istilah antiseptik, tetapi pengertian desinfeksi dan disinfektan biasanya ditujukan terhadap benda-benda mati seperti lantai, piring, pakaian dan sebagainya.

Disinfektan yang biasa digunakan pada umumnya berasal dari bahan kimia sintesis berupa bahan kimia buatan.

Bahan yang terkandung

Berikut ini bahan-bahan yang sering digunakan sebagai disinfektan beserta kegunaanya :

Chlorine

Chlorine atau lebih dikenal sebagai hipoklorit merupakan salah satu bahan disinfektan yang biasanya digunakan untuk membersihkan air di kolam renang. Selain itu chlorine juga dapat digunakan sebagai bahan disinfektan untuk permukaan barang-barang.

Bentuk-bentuk chlorine di pasaran antara lain : Liquid/gas (Cl_2), Ca (OCl)_2, NaoCL

Glutaraldehyde 2 %

Glutaraldehyde merupakan bahan disinfektan yang biasanya digunakan sebagai desinfeksi alat-alat operasi yang tidak bisa disterilkan menggunakan suhu tinggi. Selain itu dapat juga digunakan untuk membersihkan permukaan benda-benda lainnya.

Chloroxylenol 5 %

Pada umumnya chloroxylenol digunakan untuk membersihkan alat-alat medis yaitu dengan cara direndam dengan campuran alkhokol 70 %.

Penggunaan Disinfektan

Setelah memahami istilah disinfektan kita akan memahami bagaimana penggunaan dari disinfektan itu sendiri yang hanya disarankan desinfeksi untuk benda-benda mati.

Larutan disinfektan harus dipersiapkan dan digunakan sesuai dengan ketentuan/anjuran pembuatnya terkait volume dan waktu kontak. Konsentrasi yang tidak cukup dilarutkan saat dipersiapkan (terlalu rendah atau terlalu tinggi ) dapat mengurangi efektivitas dari larutan disinfektan tersebut.

Larutan disinfektan sebaiknya diberikan dalam jumlah yang cukup sehingga tidak akan mengurangi efektivitas dan tidak merusak benda yang kita tujukan.

Penyemprotan area luar ruangan seperti jalan sebenarnya tidak direkomendasikan untuk membunuh virus COVID-19 atau patogen-patogen lain karena debu dan serpihan akan menonaktifkan disinfektan sedangkan materi organik dari tempat tersebut tidak mungkin dibersihkan semua.

Di dalam ruangan, pemberian disinfektan pada permukaan lingkungan secara rutin dengan cara penyemprotan pun tidak disarankan.

Sebuah penelitian menunjukkan bahwa penyemprotan sebagai strategi desinfeksi utama tidak efektif membersihkan kontaminan-kontaminan di luar zona semprot lansung tersebut. Jika akan digunakan, disinfektan dapat diberikan dengan kain atau tisu yang telah dibasahi dengan disinfektan tersebut.

Selain itu penyemprotam disinfektan kepada orang seperti di dalam bilik dalam keadaan apapun sebenarnya tidak direkomendasikan, karena tindakan ini dapat merugikan secara fisik dan psikologis dan tidak akan mengurangi kemampuan orang yang telah terinfeksi untuk menyebarkan virus melalui droplet atau kontak. Dan tentunya menyemprot orang dengan Chlorine dan bahan kimia beracun lainnya dapat menyebabkan iritasi mata dan kulit, bronkospasme akibat terhirupnya bahan kimia, dan efek pada pencernaan seperti mual dan muntah.

Antiseptik

antiseptik
Photo by Praveen kumar Mathivanan on Unsplash

Antiseptik atau germisida adalah senyawa yang digunakan untuk menghambat atau membunuh pertumbuhan mikroorganisme pada jaringan hidup, seperti pada permukaan kulit manusia.

Jenis antiseptik berdasarkan bahan terkandungnya

Terdapat berbagai jenis antiseptik yang biasa digunakan sehari-hari. Jenis antiseptik tersebut antara lain yaitu :

  • Antibacterial dye : biasanya digunakan untuk merawat luka bakar dan luka jatuh
  • Alkohol (60 -70 %)
  • Chlorexidine : sering digunakan untuk antiseptik pembersih luka terbuka.
  • Turunan halogenated phenol : digunakan dalam sabun bagi rumah sakit serta prosedur medis.
  • Peroxide dan permanganate : bahan yang diigunakan dalam obat kumur.
  • Providine iodine : antiseptik untuk membersihkan luka yang terkontaminasi, area tubuh yang akan dioperasi.

Penggunaan antiseptik

Antiseptik dapat digunakan untuk mencuci tangan, membersihkan permukaan kulit yang terluka dan membersihkan permukaan kulit sebelum operasi.

Mencuci tangan dengan baik dan benar tidak boleh kita abaikan, terlebih lagi dalam kondisi pandemi seperti saat ini.

penggunaan antiseptik
Photo by Nathan Dumlao on Unsplash

Berikut ini langkah-langkah cuci tangan yang baik menurut WHO :

  1. Tuangkan cairan antiseptik ataupun sabuun antiseptik ke telapak tangan kemudian usap dan gosokkan kedua telapak tangan secara perlahan-lahan secara lembut dengan gerakan memutar.
  2. Usap dan gosok kedua punggung tangan secara bergantian.
  3. Gosokkan sela-sela jari hingga bersih.
  4. Gosok kedua punggung jari kedua tangan dengan posisi tangan saling mengunci.
  5. Gosok ibu jari dengan diputar dalam genggaman tangan kanan, lakukan pada kedua tangan secara bergantian.
  6. Usapkan ujung kuku tangan kanan dengan diputar di telapak tangan kiri, lakukan pula pada tangan satunya.
  7. Bilas dengan bersih menggunakaan air mengalir jika menggunakan sabun antiseptik.

Efektivitas antiseptik dalam membunuh mikroorganisme bergantung pada beberapa faktor, misalnya konsentrasi dan lama paparan. Konsentrasi mempengaruhi adsorpsi atau penyerapan komponen antiseptik tersebut.

Dalam kondisi pandemi seperti ini protokol kesehatan perlu ditegakan oleh setiap orang, karena sebagai bentuk pencegahan penularan COVID-19.

Sebagai manusia yang terdidik kita tidak boleh mengabaikan setiap anjuran yang diberikan oleh pemerintah. Jika kita tidak berupaya untuk mencegah maka rantai penyebaran akan semakin meningkat, dan kita tidak tahu apa yang akan terjadi selanjutnya.

Dapat disimpulkan bahwa antiseptik dan disinfektan mempunyai makna yang berbeda, sehingga dalam penggunaannya pun berbeda. Penggunaan antiseptik dan disinfektan untuk mencegah penularan COVID-19 akan efektif bila pemilihannya tepat serta digunakan sesuai peruntukannya.


Sekian info tentang Perbedaan Antiseptik dan Disinfektan yang Harus Kamu Ketahui

Belajar materi kimia lainnya disini ya. Dan untuk latihan soal kimia disini ya.

Informasi yang kami ambil dari beberapa sumber bacaan. Untuk konsultasi mengenai pendidikan atau lebih spesifiknya tentang materi sekolah . Kamu dapat menghubungi kami lewat akun instagram kami ya. Silakan klik disini untuk menghubungi kami lewat instagram.

Jangan lupa juga untuk subscribe newsletter dan mailing list kita untuk dapatkan info update yang akan kami kirim melalui browser notification dan email kamu.

Terima Kasih

Semangat mengejar cita-citamu yaa sobat Edura!

Tags

Hasna Rahma

Mahasiswa S1 Agroteknologi Universitas Padjdjaran

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Close