Kampus

Society of Spectacle: Masyarakat Pencitraan

Pada dasarnya buku Society of Spectacle ini membahas mengenai bagaimana segala yang dialami dan dimiliki harus terekspos ke publik.

Hanya saja masyarakatnya memiliki sikap selektif dalam menentukan realitas dengan berusaha memilah mana sisi kehidupan yang sekiranya pantas untuk dilihat umum.

Hal inilah yang membuat seseorang terkesan fake karena pastinya mereka tidak memperlihatkan kehidupan realita yang sebenarnya sehingga definisi mengenai “siapa dia” menjadi bias.

Segala mengenai penjelasan diatas kita dapat menyebutnya dengan masyarakat tontonan “the society of spectacle”.

Masyarakat lebih senang dengan gagasan mempertontonkan dunia semu dari hasil realitas yang terpecah-pecah lalu menyatukan scene yang sudah dipilih menjadi sisi yang akan terekspos.

Kepalsuan ini benar-benar terlalu nyata karena bahkan tersangka dalam penipuan ini ikut tertipu oleh ilusinya sendiri.

“The spectacle is not a collection of images, it is a social relation between people that is mediated by images.”

Hanya saja masyarakat tontonan tidak hanya berperan sebagai dekorasi atau bumbu tambahan dalam dunia nyata.

Justru melebihi itu, tontonan merupakan suatu jaringan produksi kolosal yang dimana para individual bersatu menjadi kesatuan sistem ekspetasi masyarakat.

Walaupun tontonan merupakan kehidupan semu yang hanya memperlihatkan sisi yang selektif, justru hasil seleksi ini berkumpul menjadi suatu kesatuan integral yang membentuk dunia ini.

Seakan-akan spectacle adalah tujuan utama mengapa dunia itu ada dan merupakan produksi dominan yang dihasilkan dari sistem tersebut.

Dalam buku Debord, kosakata yang menjadi khas pada karya tersebut adala munculnya kata appering. Maksud disini adalah walaupun tontonan yang disajikan hanyalah kebohongan, tak apa tetap pamerkan saja.


Society of Spectacle, Masyarakat ajang Pamer. Benarkah?

society of spectacle
Photo from giglaser.com


Zaman sekarang sudah tidak penting lagi dengan gagasan hidup dan memiliki tapi hidup dan ekspos.

Atau mungkin saja gagasan untuk memiliki masihlah penting, bahkan justru seluruh yang dimiliki itu harus diketahui oleh semua orang.

Contohnya saja seperti ini, ketika anda bertemu dengan seseorang dengan setelan baju dari brand ternama sambil mengendarai mobil bagus. Maka pasti anda akan memberi kesan pada orang tersebut bahwa ia berasal dari masyarakat kelas atas.

Mungkin bisa jadi dugaan anda itu menang, tapi bisa saja orang tersebut sebetulnya tidak memiliki mobil, melainkan melalui leasing. Untuk baju, walaupun terlihat branded tapi bisa saja merupakan pakaian KW.

Namun dengan apa yang diperlihatkan saja hal ini sudah cukup dalam membentuk gambaran mengenai bagaimana masyarakat melihat seseorang tersebut.

Selain contoh ini, mungkin kita pasti sudah tidak asing dengan media sosial, bukan?

Di era dengan kecanggihan teknologi informasi saat ini bukan suatu hal yang aneh bagi kita semua untuk selalu menggunakan media sosial secara aktif. Kurang lebih seperti itulah masyarakat tontonan itu.

Dimana istilah performer dan spectator menjadi kosakata yang sangat melekat di era sekarang ini. performer sendiri adalah masyarakat yang mempertontonkan dirinya.

Kebalikan dengan spectator, justru merekalah pihak yang menonton masyarakat lain. Pasti tidak asing bukan?

Seperti kita yang mengekspos kegiatan sehari-hari seperti melalui Instagram misalnya. Merupakan suatu hal lumrah untuk memperlihatkan seperti apa kita hangout, posting sedang dimana kita saat ini, mengekspos ucapan ulangtahun dari teman-teman, dll.

Tapi disaat yang sama kita pun sering menonton postingan atau snapgram dari teman kita, memperlakukan kehidupan mereka seperti tontonan hiburan bahkan laporan harian.

Nah, seperti itulah siklus kehidupan menurut penulis buku ini, Guy Debord dimana pola interaksi hubungan manusia mengalami pergeseran dari nilai yang mulanya hanya sekedar ada (being) menjadi memiliki (having), dan saat ini tampak (appearing).


“Kebohongan untuk Terlihat lebih Baik?”

society of spectacle
Photo from giglaser.com



Dari yang mulanya kita tercipta sebagai manusia hanya seperti mahluk hidup pada umumnya, yaitu lebih mengutamakan filosofi seperti diciptakan sebagai eksistensi yang disebut “ada”.

Lalu manusia pun berkembang dan memiliki hasrat/keinginan untuk memiliki atau diartikan sebagai sifat alami untuk mengonsumsi suatu komoditas.

Hingga akhirnya perkembangan tersebut membentuk gagasan manusia bahwa sekedar memiliki pun belum cukup untuk memenuhi hasrat dirinya untuk diakui menjadi “manusia”.

Tapi segala hal yang dimiliki pun harus memiliki nilai tampak. Nah dari sinilah fungsi gengsi, standar berkelas, mewah, eksklusif pun hadir dalam kehidupan masyarakat saat ini.

Namun, apakah istilah society of spectacle selalu berkaitan erat dengan “kebohongan untuk terlihat lebih baik”? Tidak juga. Mark Zuckerberg adalah contoh umum sebagai member dari masyarakat tontonan.

Sudah merupakan wawasan umum bila seluruh dunia mengenalnya sebagai founder sekaligus CEO media sosial kolosal Facebook.

Berhubung merupakan seorang entrepreneur terkemuka, pasti sosok ini berkaitan erat dengan kehidupan yang mewah dan gaya yang berkelas.

Namun, tokoh besar ini melakukan hal sebaliknya. Mark Zuckerberg dikenal sebagai sosok yang lebih senang berpenampilan sederhana.

Bahkan beberapa informasi mengatakan bahwa ketika dirinya mengadakan resepsi pernikahan dengan Priscilla Chan pada 2012 lalu justru jauh dari kata mewah.

CEO Facebook ini justru lebih memilih untuk menggelar pernikahan dengan konsep sederhana yang berlangsung di halaman rumah Zuckerberg di Palo Alto, California dengan dihadiri 100 tamu undangan.

Belum lagi dengan gaya khas dirinya yang khas hanya mengenakan kaos, celana jeans, dan sepatu skate memberikan kesan kasual santai.

Hal ini membuktikan bahwa maksud dari society of spectacle adalah bagaimana suatu individu berusaha membentuk citra diri terhadap masyarakat mengenai bagaimana mereka memandang dirinya dan hal tersebut bisa dalam bentuk apapun.

Sekian Info dari kami tentang Seputar Mahasiswa : Apa Itu Society of Spectacle? Untuk konsultasi mengenai pendidikan atau seputar kampus  ini. Kamu dapat menghubungi kami lewat akun instagram kami ya. Silakan klik disini untuk menghubungi kami lewat instagram.

Jangan lupa juga untuk subscribe newsletter dan mailing list kita untuk dapatkan info update yang akan kami kirim melalui browser notification dan email kamu.

Terima Kasih

Tags

Elvira

Sedang menyelesaikan studi di Universitas Padjadjaran jurusan Ilmu Komunikasi. Senang berorganisasi dan menghasilkan konten yang bermanfaat seputar beasiswa, perkuliahan, dan topik di jurusan terkait

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Close