EkonomiKampus

Apa itu Analisis Top down pada Investasi Saham?

Belakangan ini memang dunia pasar modal sedang mengalami kemerosotan nilai saham yang cukup signifikan akibat covid-19. Hanya saja walaupun sedang dalam kondisi seperti ini, tetap saja mempelajari instrument investasi saham khususnya fundamental analysis seperti analisis top-down itu penting sekali.

Hal ini karena sebagai masyarakat memang sudah sepatutnya untuk lebih peka terhadap kondisi perekonomian negara terlebih global.

Karena ketidakpedulian kamu terhadap kondisi sekitar khususnya pada aspek ekonomi tetap saja dampak negatifnya akan menyeretmu terlibat juga pada akhirnya. Bahkan berkat pandemik pun efeknya mulai terasa pada finansialmu bukan?

Makannya belajar analisis fundamental itu penting banget untuk kebaikanmu juga, suka atau gak suka. Buat kamu yang ngerasa belajar yang ginian tuh bikin ribet buat apa dah? Bisa banget untuk mempertimbangkan lagi mindsetmu itu dengan membaca artikel ini.

Lalu Apa yang Pertama Kita Pelajari?

Bila kamu membaca artikel sebelumnya disini, sudah dipaparkan sebelumnya bahwa fundamental analysis itu berarti kamu berusaha menganalisis apakah perekonomian suatu negara masih sehat atau tidak.

Kenyataannya pada fundamental analysis sendiri sangat umum digunakan metode analisis top-down yang merupakan analisis dimulai dari ekonomi negara secara makro hingga dikerucutkan menjadi lingkup yang lebih kecil, yaitu per-sektor hingga perusahaan satu persatu.

Walaupun sebetulnya dalam fundamental analysis sendiri bisa juga dilakukan analisis secara bottom-up atau dianalisis dulu per-perusahaan, baru memperluas cakupan analisis menjadi per-sektor dan tingkat makro.

Atau dengan kata lain, mengesampingkan analisa siklus pasar secara global dan lebih memprioritaskan analisa masing-masing saham.

analisis top-down

Contoh analisis ekonomi sendiri seperti,PDB, suku bunga, inflasi, fluktuasi nilai tukar, dll. Sedangkan untuk industry analysis, misalnya seperti menganalisis sektor industry manakah yang sedang bertumbuh, menelaah regulasi, inovasi, penjualan, dan dividennya.

Sedangkan dalam menganalisis perusahaan, dapat ditelaah secara kualitatif dan kuantitatif seperti menganalisis manajemen perusahaan, model bisnis, keunggulan perusahaan, hingga laporan keuangan beserta rasionya.

Bisa dibilang hal yang disebutkan diatas adalah contoh dasar dari lingkup kajian fundamental analysis. Nanti akan ada dibahas juga pembahasan yang lebih mendetail mengenai 3 aspek ini.

Kelebihan dan Kekurangan Analisis Top-down dan Bottom-up

Nah mengenai jenis analisis fundamental, keduanya boleh dipilih lebih nyaman memakai metode yang mana. Supaya kamu calon investor bisa lebih matang mempertimbangkan pilihan metode, berikut tulisan ini akan memaparkan kelebihan dan kekurangan dari analisis top-down dan bottom-up.

Metode analisis fundamentalKelebihanKekurangan
Top-downDapat menentukan alokasi aset yang ideal berdasarkan kondisi pasar.

Mampu menentukan kapan situasi yang tepat untuk investasi saham, sehingga dapat menghindari momen berinvestasi disaat pasar sedang bearish.

Dapat melakukan diversifikasi pada sektor yang unggul sekaligus pasar saham di negara lain yang berpotensi baik. Sehingga portofolionya bisa lebih tersebar ke berbagai sektor dan wilayah unggulan yang layak investasi
Bila riset dan data yang dihimpun tidak tepat maka akan berdampak pada portofolio secara keseluruhan. Misalnya bila hasil analisis menyimpulkan pasar sedang mengalami trend penurunan dan ternyata sebaliknya. Akibatnya portofolio akan kehilangan kesempatan untuk menikmati hasil dari pasar saham

Karena jangkauan analisisnya sangat luas sehingga pasti akan ada beberapa sektor dan emiten alternatif yang terlewat atau tidak sempat dianalisis. Padahal bisa saja justru sektor tersebut yang unggul. Tapi karena tidak dipilih jadi tidak kebagian timbal hasilnya.
Bottom – upPendekatan seperti ini akan membantu investor untuk mengenal emiten (perusahaan) dengan lebih detail.

Dapat mempertajam keakuratan analisis terhadap suatu emiten untuk potensi jangka panjang.

Dapat melakukan seleksi saham, sehingga jumlah saham yang dipilih pun tidak terlalu banyak.
Analisis seperti ini berhubung mendetail jadi membutuhkan kesabaran karena lumayan memakan waktu dalam melakukan riset.

Karena lebih fokus pada analisis per-emiten sehingga tidak memperhatikan iklim pasar. Sehingga apabila sedang bearish (penurunan). konsekuensi terhadap portofolio pun lumayan besar.

Sekian Info dari kami tentang Apa itu Analisis Top-down dan Analisis Bottom-up? Untuk konsultasi mengenai pendidikan atau seputar kampus  ini. Kamu dapat menghubungi kami lewat akun instagram kami ya. Silakan klik disini untuk menghubungi kami lewat instagram.

Jangan lupa juga untuk subscribe newsletter dan mailing list kita untuk dapatkan info update yang akan kami kirim melalui browser notification dan email kamu.

Tags

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Close